Cari Blog Ini

JOIN THE CARAVAN

Get Gifs at CodemySpace.com Get Gifs at CodemySpace.com
Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tsaqofah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 April 2012

MEMPERSIAPKAN PEMIMPIN YANG IDEAL


Oleh : Dubyan Asy-Syahid       
 Jangan salahkan mereka yang acuh terhadap pemilu, sudah bosan rakyat menilai kelakuan bejat para atasan, gombal janji yang mereka obral bak tong kosong yang hanya nyaring bunyinya namun tak ada realisasi yang nyata, tergores hati rakyat dengan korban janji para pejabat yang tak pernah mengerti akan nasib mereka, seakan sebuah kehidupan hukum rimba, siapa kuat dialah yang akan berkuasa,  rakyat kecil senantiasa tertindas, tak ada yang bisa mereka lakukan kecuali hanya pasrah dan sabar.
Fakta telah mengungkap, kebengisan para atasan menorehkan luka mendalam bagi rakyat, berapa banyak rakyat menangis ? berapa banyak rakyat jelata memohon ? berapa banyak mereka melihat kenyataan yang pahit ?, kasus-kasus yang mengiris hati mereka, tentang si “raja tega” pencuri club  dan penyeleweng amanah rakyat alias tikus-tikus berdasi yang masih hidup di Indonesia (koruptor).  Sudah selesaikah kasus korupsi bank  century ? kemana pencuri itu melarikan diri ? apakah ada tindak lanjut dari sang pemimpin ? lenyap ditelan masa, bak debu yang tertiup silir angin di sore hari, rintihan rakyat yang tak lagi mereka hiraukan menjadikan mereka memendam rasa perih yang begitu mendalam.

Kamis, 12 Januari 2012

Solusi Tepat Problematika Umat


Musibah dan problematika yang menghantam suatu negeri adalah suatu kemestian yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan ketetapan ini berlaku untuk setiap negeri yang diutus padanya seorang rasul. Allah SWT menjelaskan dalam salah satu ayatnya:"Dan tidaklah Kami mengutus seorang Nabipun kepada suatu negeri (lalu penduduknya mendustakan Nabi itu), melainkan akan kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri." (Al-A’raf: 94)
Dan masih terekam kuat di benak kita apa yang dialami kaum muslimin di berbagai negeri berupa fitnah dan musibah. Penindasan dan perampasan wilayah oleh kaum kafir atas kaum muslimin di Afghanistan, Palestina, Filipina, Bosnia, Cheznya dan negeri lainnya serta musibah banjir, tsunami dan semisalnya. Semuanya itu tidak lepas dari ketetapan Allah SWT di atas. Demikian pula halnya dengan bangsa dan kaum muslimin di Indonesia pada saat ini mendapat musibah yang menyesakkan, chaos, kesempitan, kekurangan, problem hukum, keamanan, pemerintahan, serta krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Namun demikian, tidaklah Allah SWT menetapkan suatu ketentuan melainkan dengan sebab. Maksudnya Allah tidak akan menimpakan suatu malapetaka pada suatu negara melainkan dengan sebab. Jika kita mau adil dan jujur dalam mengoreksi kehidupan kita dan kaum muslimin pada umumnya, maka kita akan menemukan faktor utama penyebab realita ini. Allah SWT berfirman: "Katakanlah (wahai Muhammad): Jika bapak-bapak kalian, saudara-saudara, istri-istri kaum keluargamu, harta kekayaan yang kalian usahakan, dan perdagangan yang kalian khawatirkan kebangkrutannya serta rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan rasul-Nya dan (dari) jihad fi sabilillah, tunggulah hingga Allah timpakan adzabnya, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (At-Taubah: 24).

Kamis, 05 Januari 2012

Aneka Ujian Di Jalan Dakwah


Mengenal tabiat jalan dakwah mutlak diperlukan oleh para du’at. Sebab hal itu merupakan salah satu faktor pendukung kesiapan mental saat berhadapan dengan berbagai rintangan dan ujian. Mengenal tabiat jalan dakwah juga akan membantu seseorang untuk menentukan perbekalan apa yang perlu dipersiapkan untuk menempuhnya.
Jalan dakwah memang merupakan jalan yang penuh ujian, rintangan dan tantangan. Betapa tidak. Sebagai manusia saja, tanpa dikaitkan dengan urusan keimanan tidak pula dengan urusan dakwah, seseorang pasti berhadapan dengan ujian dan tantangan, apalagi sebagai manusia mukmin. “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya karena mereka mengatakan kami beriman, padahal mereka belum diuji?” (QS. 29:1-2). Apalagi bila orang mukmin itu berdakwah. Maka ujiannya pun akan lebih berat lagi. Sebab selain ujian atas keimanannya Allah juga akan mengujinya dalam hal konsistensi di jalan dakwah.
Secara garis besar ujian dakwah dapat dibagi dua: ujian berupa kesenangan, kebahagiaan, dan kenikmatan serta ujian dalam bentuk penderitaan, kenestapaan, dan kesulitan. Allah swt. telah mengingatkan hal ini dalam ayat-Nya, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. 21:35)
Contoh konkrit kedua bentuk ujian ini tertera dalam firman-Nya, “Dan ingatlah (hai para muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Medinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolonganNya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.” (QS. 8:26)

Minggu, 01 Januari 2012

Misi Kristen Setelah WorldHelp Tersudut


Setelah WorldHep dikabarkan akan memindahan 300 anak yatim Aceh ke keluarga Kristen, kelompok ini buru-buru meralatnya. Masyarakat perlu mencermati gerakannya. Baca CAP ke-87 Adian Husaini, MA
Berita tentang rencana pengkristenan anak-anak Aceh yang dimuat The Washington Post, 13 Januari 2005, telah memicu respons yang hebat. Berbagai organisasi keagamaan, baik Islam maupun Kristen, bereaksi. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga meminta berita tentang pemindahan 300 anak Aceh ke keluarga-keluarga Kristen di Jakarta itu diselidiki kebenarannya. Sehari setelah berita itu muncul dan memicu reaksi hebat di kalangan Muslim, tampaknya ada kegelisahan besar di kalangan pemuka-pemuka Kristen di Indonesia, sehingga mereka berinisiatif melakukan pertemuan dengan organisasi-organisasi Islam, terutama NU dan Muhammadiyah.

Pihak WorldHelp sendiri, seperti diberitakan koran yang sama sehari kemudian, menyatakan tidak melanjutkan rencananya untuk mengambil anak-anak Aceh untuk di-Kristenkan. Tetapi, karena sudah mengumpulkan dana misi Kristen, WorldHelp saat ini mencari anak-anak yatim Indonesia lainnya untuk ditempatkan di keluarga-keluarga Kristen, dan berusaha meyakinkan donaturnya, bahwa dana 70.000 USD akan digunakan sesuai dengan keinginan donaturnya.

Menurut Henry Lantang, wakil WorldHelp di Indonesia, pihaknya belum memindahkan anak-anak Aceh ke Jakarta. Ia hanya menginformasikan kepada WorldHelp bahwa ia membaca berita tentang 300 anak yatim Aceh yang menunggu untuk diterbangkan di Jakarta. Jadi, katanya, belum ada anak Aceh yang diterbangkan di Jakarta dan ditempatkan di keluarga-keluarga Kristen.

Penjelasan Henry Lantang itu perlu dicermati dan diperjelas. Apa yang sebenarnya dia sampaikan kepada WorldHelp pusat, sehingga mereka begitu bersemangat mengkristenkan anak-anak Aceh. Sebab, sehari sebelumnya, berita di The Washington Post cukup gamblang. Mengutip website WorldHelp, koran Amerika itu menyatakan, bahwa ''Di masa normal, Banda Aceh tertutup bagi orang asing dan juga penyebar agama.''

Tapi, karena kondisi darurat tak terelakkan, ada gempa tektonik dan tsunami, para misionaris memiliki hak untuk masuk dan menyebarkan agama mereka. Menurut Washington Post, WorldHelp bekerja sama dengan kelompok Kristen di Indonesia yang ingin menanamkan prinsip-prinsip Kristiani secepat mungkin.

WorldHelp menyebut anak-anak yang dibawanya kehilangan orang tua dan keluarganya. Rata-rata mereka berusia 12 tahun ke bawah. ''Mereka trauma, yatim-piatu, tidak punya rumah, tak tahu mau pergi ke mana, dan tak memiliki sesuatu untuk dimakan,'' kata WorldHelp. Jika anak-anak itu tinggal bersama keluarga Kristen dan memeluk Kristen, kata WorldHelp, mereka bisa membawa ajaran itu ke Aceh. ''Kita ingin menjangkau Aceh lewat anak-anak itu,'' kata WorldHelp. Dan Presiden WorldHelp, Pendeta Vernon Brewer, mengatakan organisasinya telah mengumpulkan 70 ribu dolar AS untuk Aceh. Targetnya, sampai 350 ribu dolar AS.

Akhir pekan sebelum berita Washington Post itu, WorldHelp meluncurkan aksi pengumpulan dana. Kata mereka, masyarakat Aceh sangat menentang keras agama lain. Mereka tidak terjangkau Injil. Sehingga pengambilan anak-anak Aceh itu akan menjadi pintu masuk mengkristenkan masyarakat Aceh.

Pengakuan WorldHelp itu tampaknya menjadi tamparan hebat komunitas Kristen. Apalagi, banyak diantara mereka yang juga sedang menyalurkan bantuan ke Aceh dalam berbagai bentuknya. Mungkin karena desakan dan protes hebat dari berbagai kalangan, maka kemudian pihak WorldHelp meralat rencananya untuk mengkristenkan anak-anak Aceh. Dalam pertemuan organisasi Kristen dengan beberapa organisasi Islam, tanggal 15 Januari 2005, keluarlah pernyataan, yang antara lain berbunyi sebagai berikut:

“Komunitas Kristen di Indonesia, dalam hal ini PGI dan KWI, menolak segala usaha untuk menyalahgunakan misi kemanusiaan sebagai cara kristenisasi. Hal ini bertentangan sama sekali dengan semangat dan ajaran Kristen yang sebenarnya.¨

Diantara penantangan pernyataan tersebut ialah Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe (Ketua Umum PGI), Rm. Benny Susetyo, Pr. (Sekretaris Eksekutif HAK-KWI), Prof. Dr. Ahmad Syafi'i Ma'arif (Ketua PP Muhammadiyah), K.H. Hasyim Muzadi (Ketua Umum PBNU).

Pernyataan itu menarik untuk dicermati. Sebab ini merupakan pernyataan resmi yang disepakati oleh para petinggi organisasi Kristen dan Islam di Indonesia, meskipun efektivitasnya masih bisa dipertanyakan. Pernyataan itu menunjukkan, bahwa Kristenisasi tidak perlu dipersoalkan, tetapi caranya bukan dengan menyalahgunakan bantuan kamanusiaan. Para penandatangan itu tidak menolak Kristenisasi, tetapi hanya menolak cara melalui penyalahgunaan bantuan kemanusiaan. Cara-cara Kristenisasi lain seolah-olah sah-sah saja digunakan.

Ketua Umum PGI A. Yewangoe sendiri tercatat sebagai pendukung kuat gerakan Kristenisasi di Indonesia. Itu bisa dibaca, misalnya, dalam sebuah tulisannya berjudul “Gereja di Era Reformasi¨, dalam buku Gereja dan Reformasi, (Yakoma-PGI, 1999:31-32), Yewangoe menolak statistik pemeluk Kristen versi pemerintah. Ia menulis:

“Saya sendiri tidak percaya statistik itu. Masa dalam sekian tahun tidak pernah jumlah orang Kristen bertambah, padahal kita tahu betul bahwa di banyak tempat terjadi baptisan-baptisan masal. Kalau sungguh-sungguh jujur, sebaiknya diadakan sensus dengan cara yang terbuka pula. Saya menaksir jumlah orang Kristen di Indonesia sekarang ini antara 16-17%, kalau lebih optimis 20%. Malah bisa lebih.

Agar kita mempunyai "counter data", sebaiknya gereja-gereja mengadakan sensus sendiri, lalu data-data itu dikirim kepada Balitbang PGI. Kalau kita punya data-data yang akurat, maka kita dapat menolak penyajian data yang tidak tepat yang dilakukan oleh lembaga apa saja. Tetapi memang persentase yang kecil itu dengan sengaja dikemukakan berulang-ulang agar kita dirasuki "sikap mental minoritas".

Sikap mental ini sangat berbahaya, apalagi kalau sudah memasuki gerenasi muda. Ini akan membawa mereka (dan kita sekalian) kepada "minderwaardigheids complex (mc). Lalu terus-menersu menganggap diri warga negara kelas dua. Gereja-gereja harus tegas dalam hal ini. Walaupun jumlah kita kurang dari orang lain, itu tidak berarti bahwa minoritas, lebih-lebih dalam proses pengambilan keputusan.¨

Begitulah sikap tegas dan jelas dari Ketua Umum PGI yang baru saja menggantikan Pdt. Nathan Setiabudi dalam Sidang Raya PGI beberapa waktu lalu. Jadi, Yewangoe tidak berkeberatan jika pihak Kristen melakukan baptisan-baptisan masal terhadap kaum Muslim atau pemeluk agama lain. Lalu, mengapa ia menolak cara-cara Kristenisasi dengan menggunakan bantuan kemanusiaan seperti dilakukan WorldHelp?

Kesalahan WorldHelp adalah mengekspose rencana itu dan menyatakannya secara vulgar. Kasus Kristenisasi melalui bantuan kemanusiaan sebenarnya bukan hal baru. Banyak jerat-jerat kristensasi dilakukan melalui pengobatan, bantuan makanan, beasiswa pendidikan, bahkan jerat utang-piutang.

Menjelang kedatangan Paus Yohanes Paulus II di Indonesia tanggal 3 Desember 1970, empat tokoh Islam Indonesia, yaitu M. Natsir, KH Masjkur, Prof. Rasjidi, dan KH Rusli Abdul Wahid menulis surat kepada Paus. Keempat tokoh itu meminta agar penyalahgunaan "Diakonia" (pelayanan masyarakat) untuk tujuan mengkristenkan orang Islam, segera dihentikan. Sebab, cara-cara itu sendiri sudah ditentang dalam Konferensi Internasional tentang misi Kristen dan Dakwah Islam di Chambessy pada bulan Juni 1976, dimana para pemimpin Islam, Katolik, dan Protestan sudah memutuskan:

"Konferensi mengutuk dengan keras semua penyalahgunaan diakonia Konferensi, karena menyadari dengan pedih bahwa sikap umat Islam terhadap misi Kristen telah dipengaruhi secara merugikan oleh penyalahgunaan diakonia, dengan keras mendesak greja-gereja dan organisasi-organisasi keagamaan Kristen untuk menghentikan penyalahguaan diakonia mereka di dunia Islam."

Tapi, ya itulah, keputusan itu ibarat macan ompong. Aksi penyalahguaan diakonia tetap saja berlangsung di berbagai dunia Islam, dan memancing protes dari kaum Muslim dimana-mana. Dalam lampiran suratnya ke Paus itu, keempat tokoh mencantumkan berbagai aksi Kristenisasi yang menyalahgunakan diakonia. Contohnya, seperti praktik pemberian bantuan kepada orang miskin, penawaran pekerjaan, perbaikan rumah, pemberian beasiswa, kursus-kursus gratis, pertunjukan film, penyalahguaan transmigrasi, dan sebagainya.

Kita mengimbau agar pihak Kristen seyogyanya konsisten dengan pernyataan itu, dan menindak tegas oknum-oknum atau lembaga Kristen yang menyalahgunakan program kemanusiaan untuk misi Kristenisasi. Selama ini tidak terhitung cerita tentang dokter Kristen atau suster Kristen yang menjebak pasien Muslim untuk menerima kepercayaan tentang Tuhan Yesus. Di televisi dan masyarakat kita sering melihat para penyebar agama Kristen memanfaatkan pelayanan kemanusiaan berupa pengobatan atau doa pelayanan untuk menjebak orang non-Kristen masuk perangkap misi Kristen.

Di dunia pendidikan Kristen, tidak sedikit bukti-bukti tentang adanya usaha pelunturan aqidah para pelajar dan mahasiswa Muslim. Apakah semuanya itu bukan merupakan bentuk penyalahgunaan bantuan kemanusiaan untuk misi Kristenisasi?

Karena itu, sebaiknya ada usaha-usaha pro-aktif dari kalangan Kristen untuk meminta pemerintah melarang berbagai bentuk penyalahgunaan aksi kemanusiaan untuk Kristenisasi, sehingga pernyataan para tokoh Kristen itu bukan sekedar basa-basi karena tersudut oleh pengakuan terbuka strategi Kristenisasi lembaga misi Kristen seperti WorldHelp. Pada sisi lain, pemerintah juga bisa mengambil tindakan tegas terhadap para misionaris --terutama para evangelis dari AS—yang akhir-akhir ini begitu agresif menyerang Indonesia dengan gerakan misi mereka.

Namun, yang lebih penting adalah kalangan Muslim sendiri untuk memahami dengan baik, bentuk-bentuk misi Kristen itu sendiri. Misi Kristen bukanlah hanya dalam bentuk kristenisasi dalam arti pemindahan agama secara formal (proselitisasi). Dalam Katolik, misalnya, disebutkan, bahwa misi Kristen bisa dilakukan dalam berbagai bentuk dan tahap. Menurut The Document of The Attitude of the Church towards the Followers of the Religions: Reflections and Orientations on Dialogue and Mission, Citta del Vaticano: Secretariatus pro non Christianis (1984), misi Kristen adalah satu tetapi dilakukan dengan berbagai cara tergantung pada kondisi dan situasi.

Gerakan misi yang dilakukan melalui metode penyalahgunaan misi kamanusiaan sebenarnya saat ini sudah ketinggalan jaman, meskipun masih banyak yang menggunakannya. Bagi kaum Muslim, inti dari Kristenisasi adalah pemurtadan. Kalangan misi Kristen ada yang berpikir, Muslim tidak harus secara formal menjadi Kristen, tetapi yang penting ia tidak lagi meyakini kebenaran agamanya sendiri, sehingga tidak menjadi penghalang Kristenisasi. Maka, tidak jarang, dalam berbagai hal sulit dibedakan lagi, mana yang Islam dan mana yang Kristen. Sebab, kata mereka, agama apa saja adalah sama. Jika ada yang berpendapat semacam itu, bahwa semua agama adalah sama, maka inilah bentuk pelecehan terhadap Islam dan satu bentuk kebohongan yang nyata. Sebab, tidak mungkin ia telah mempelajari semua agama dan telah membaca semua Kitab agama-agama yang ada yang jumlahnya ribuan. Wallahu a'lam. (KL, 28 Januari 2005)

Jumat, 16 Desember 2011

STRATEGI DALAM BERDAKWAH


Di antara sifat Allah SWT yang menonjol adalah Al-Hakim (Maha Bijaksana). Dia Maha bijaksana dalam perintah dan larangan-Nya. Seorang muslim yang kecipratan sifat-Nya ini akan menggabungkan akal budi yang mulia, dada yang lapang, hati nurani yang bersih. Hikmah terkadang dimaknai sebagian orang dengan filsafat. Padahal hikmah adalah inti filsafat, lebih halus dari filsafat. Filsafat hanya dijangkau oleh orang yang terlatih kecerdasannya dan lebih tinggi cara berpikir. Sedangkan hikmah bisa dipahami oleh orang awam dan tidak bisa terbantahkan oleh ilmuan. Hikmah tidak sebatas ucapan verbal, tetapi jelmaan dari tindakan dan akal budi.
Imam Syafii dikenal memiliki
qoul qadim (fatwa lama) dan qaul jadid (fatwa baru). Ini menunjukkan kedalaman ilmu syariah (tafaqquh fiddin) dan pemahaman terhadap obyek dakwah (fiqh dakwah).
Beliau mengatakan, Memahami syariat merupakan fann (ilmu) tersendiri dan cara mengkomunikasikannya merupakan fann yang lain.
Ketika seorang komunikator Allah SWT (dai/muballigh) itu matang secara spiritual maka yang keluar dari lisannya adalah qaulan tsaqila (ucapan yang berbobot), (al-Muzzammil (73) :5), qaulan layyina (ucapan yang lembut) (Thaha (20) : 44), qaulan tsabita (ucapan yang meneguhkan), (Ibrahim (14) : 27), qaulan ma’rufa (ucapan yang dikenali hati), (al-Baqarah(2) : 263), qaulan karima (ucapan yang mulia), (al-Isra (17) : 23), qaulan sadida (ucapan yang tepat), (al-Ahzab (33) : 70) qulan baligha (ucapan yang memiliki ketinggian nilai sastra), (an Nisa (4) : 63), qulan maisura (ucapan yang mudah dan memudahkan), (al-Isra (17) : 28).

Stigma negatif yang dicitrakan oleh pihak tertentu terhadap Islam belakangan ini, diantaranya diakibatkan oleh pelaku dakwah yang dangkal pemahaman keislamannya dan picik (sempit pandangan dan sempit dada) dalam memahami realitas medan dakwah (
maidanud dakwah).

Dahulu, para muballigh yang dikirim di kepulauan Nusantara ini sejak zaman Umar bin Khathab, mereka menjalankan misi dakwahnya sukses secara damai. Sekalipun Indonesia kala itu masih dipengaruhi Hindu dan Budha.

Di antara faktor utamanya mereka dikenal
faqih fiddin, pula memahami secara mendalam dimana materi dakwah itu dikomunikasikan.

Abu Bakar Ash Shiddiq sukses memerangi kaum
murtaddin, meredam gejolak dan pergolakan yang terjadi, karena khalifah yang pertama ini disamping faqih fiddin pula pakar ilmu ethnologi (ahli di bidang etnis, bagian dari ilmu manejemen). Beliau memahami suku mana yang perlu digertak dengan paksa, diplomasi dan suku mana yang memerlukan pendekatan individual (dakwah fardiyah).

Berikut sebelas alasan agar kita bisa meneladani kebijaksanaan para pendahulu kita yang shalih (salafus shalih) dalam berdakwah :

Kamis, 15 Desember 2011

Bukan Politik Kholifah Utsman bin Affan


layaknya setan yang mengoda manusia tatkala tak mampu mereka menggoda dari satu arah mereka akan senantiasa mencari celah yang lain begitu pulan dengan kalangan orientalis yang sengaja mencari cari kesalahan alquran dari berbagai sudut,
Pertama, melalui periwayatan;
kedua, melalui penemuan manuskrip lama; dan
ketiga, melalui tafsiran dan kekuatan intelektual. 
oleh karena itu mari kita melihat melihat dan memahami dengan akal yang sehat sejarah  history pengumpulan alquran  dari satu generasi ke generasi.
pengertian: 
Makna dari pengumpulan (jam’ul quran) menurut para ulama’ ada dua pengertian :
1.  Pengumpulan dalam arti hifzuhu (mejaganya dalam hati) jumma’ul quran artinya penghafal-penghafalnya, orang yang mengahafal dalam hati
2.  Pengumpulan dalam arti kitabuhu kullihi (penulisan quran seluruhnya) baik memisah misah ayat ataupun menertipkan ayat-ayat semata.

A.      Pengumpulan alquran dalam arti mengahafalnya pada masa nabi
Dalam kitab shohih bukhori disebutkan ada tuju hafidzul quran, mereka adalah Abudullah bin Mas’ud, Salim bin Ma’qal bekas budak Huzaifah, Mu’adz bin Jabal, Ubai bin Ka’ab, Zaid bin Sabit, Abu Zaid bin Sakan dan Abi Darda’.

Senin, 07 November 2011

Masa Kemajuan Islam (650-1000 M) - Khilafah Rasyidah


Khilafah Rasyidah merupakan para pemimpin ummat Islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat, yaitu pada masa pemerintahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, Radhiallahu Ta’ala anhu ajma’in dimana sistem pemerintahan yang diterapkan adalah pemerintahan yang islami karena berundang-undangkan dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam tidak meninggalkan wasiat tentang siapa yang akan menggantikan beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam sebagai pemimpin politik umat Islam setelah beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam wafat. Ia Shallallahu ‘Alaihi wasallam nampaknya menyerahkan persoalan tersebut kepada kaum muslimin sendiri untuk menentukannya. Karena itulah, tidak lama setelah beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam wafat; belum lagi jenazahnya dimakamkan, sejumlah tokoh Muhajirin dan Anshar berkumpul di balai kota Bani Sa'idah, Madinah. Mereka memusyawarahkan siapa yang akan dipilih menjadi pemimpin. Musyawarah itu berjalan cukup alot karena masing-masing pihak, baik Muhajirin maupun Anshar, sama-sama merasa berhak menjadi pemimpin umat Islam. Namun, dengan semangat ukhuwah Islamiyah yang tinggi, akhirnya, Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu terpilih. Rupanya, semangat keagamaan Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu mendapat penghargaan yang tinggi dari umat Islam, sehingga masing-masing pihak menerima dan membaiatnya.
Sebagai pemimpin umat Islam setelah Rasul, Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu disebut Khalifah Rasulillah (Pengganti Rasul Allah) yang dalam perkembangan selanjutnya disebut khalifah saja. Khalifah adalah pemimpin yang diangkat sesudah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam wafat untuk menggantikan beliau Shallallahu ‘Alaihi wasallam melanjutkan tugas-tugas sebagai pemimpin agama dan kepala pemerintahan.
Abu Bakar Radhiallahu ‘anhu menjadi khalifah hanya dua tahun. Pada tahun 634 M

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes