Cari Blog Ini

JOIN THE CARAVAN

Get Gifs at CodemySpace.com Get Gifs at CodemySpace.com

Kamis, 19 April 2012

KETIKA SI MUNGIL REWEL



            Orang tua harus pandai memahami kondisi anaknya. Rewel atau tangisan merupakan salah satu bahasa ekspresi anak.
            "Begitulah kondisi anak kecil. Dia menjadikan tangis sebagai ekspresi diri untuk mengungkapkan dan menyikapi sesuatu. Karena menangis adalah bahasa bayi dan anak kecil. Tangis memberitahukan bahwa dia dalam keadaan lapar, basah, panas, dingin, bosan, frustasi, dan sebagainya," papar Eri Soekresno.
            Karenanya, tangisan pada anak harus disikapi dengan bijak. "Sebagian bayi lebih sering menangis karena factor karakternya sejak awal, mudah kecewa dan sulit untuk tenang," ujar Dr. Irwan Prayitno.
            Kalau sang anak menangis, mungkin ia mengalami sedikit rasa tidak nyaman secara fisik dan perusahaan fisiologisnya. Selain kelainan fisik, anak rewel juga bisa disebabkan karena ketidaksiapannya secara psikologis. "Biasanya anak belum siap menghadapi situasi lingkungan atau orang baru. Berbagai sikap dan perilaku aneh muncul sebagai reaksi terhadap ketidaknyamanan yang dirasakannya.
            Karenanya, orangtua sebaiknya mendeteksi gejala tersebut sejak dini agar masalah balita tidak berlarut-larut dan mengganggu perkembangan psikologis dan kemampuan bersosialisasi dengan orang lain.
            Gejala guling-guling, menjerit, memukul-mukul bisa disebabkan beberapa hal. Diantaranya:
1.      Anak terlalu lelah, sehingga mudah kesal dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
2.      Gagal melakukan sesuatu, sehingga anak menjadi emosi dan tak mampu mengendalikannya. Hal ini akan semakin parah jika anak merasakan bahwa orang tuanya selalu membandingkannya dengan oranglain, atau orang tua memiliki tuntutan yang tinggi pada anaknya.
3.      Jika anak menginginkan sesuatu, selalu ditolak dan dimarahi. Sementara orangtua selalu memaksa anak untuk melakukan sesuatu di saat dia sedang asyik bermain. Mungkin orangtua tidak mengira bahwa hal ini akan menjadi masalah pada si anak di kemudian hari. Akan tetapi ini adalah konflik yang akan merusak emosi si anak. Akibatnya emosi anak akan meledak.
4.      Lemahnya perkembangan mental anak. Pada anak yang mengalami hambatan dalam perkembangan mentalnya, anak sering putus asa untuk mengungkapkan maksudnya pada orang lain.

Karenanya, sikap rewel, suka menangis dan ngambek pada anak, harus disikapi dengan bijak. Marah ketika anak sedang rewel hanya akan menambah parah suasana. Dibutuhkan kesabaran untuk menghadapi anak rewel dan suka menangis.
Bahasa tangis anak harus dipahami orangtua karena hal tersebut berkaitan dengan sikap orang tua terhadap anak akhirnya sangat berpengaruh pada sifat dan kepribadian anak. Orangtua yang acuh terhadap anaknya akan menyebabkan anak tumbuh dengan sifat acuh pula sampai ia dewasa. Tidak wajar orangtua menyikapi tangis anak dengan menganggapnya sebagai sikap cengeng anak.

Sabili No. 13 TH. XI 15 Januari 2004 / 23 Dzulqo'dah 1424 H

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes